Lala tersenyum tipis, senyum penuh kebanggaan dan keteguhan. "Tidak semudah itu. Meski kuat, manusia tidak menyerah begitu saja. Kami mengembangkan alat-alat untuk menghadapi mereka, bahkan menangkap salah satu yang terkuat, seorang Mutan dengan kekuatan telekinesis. Dan tentunya, aku juga salah satu pencipta dari  alat-alat yang dibuat itu."

Jelita mengangkat alis, memandang Lala dengan kagum. "Kamu sungguh luar biasa, Lala. Di mana pun berada, selalu ada sesuatu yang berharga yang kamu ciptakan."

Kael mengangguk setuju sebelum melanjutkan dengan tatapan serius. "Aku pernah berhadapan dengannya bersama Komandan Kane. Kami berjuang mati-matian sebelum berhasil menangkapnya. Kemampuannya mengerikan."

"Komandan Kane? Bukankah dia yang memimpin kalian ke pulau?" tanya Narendra.

"Planet Surya" kata Lala dengan tegas. "Kepala suku kita, Lynx sudah memberi nama agar kita mudah menyebutnya."

Sebelumnya,  Leena dan Lala sudah bertanya apa alasan Lynx menggunakan nama Plasura dan apa artinya. Meski dianggap aneh dan konyol, namun mereka setuju dengan nama yang diberikan untuk pulau tersebut.

"Planet Surya? Nama yang bagus. Mulai sekarang kami akan menyebutnya planet Surya. Planet tempat suku surya berasal." Kata Karim sambil berusaha mengingatnya.

Kael lalu melanjutkan ceritanya lagi. "Narendra benar. Komandan Kane adalah orang yang memimpin kami ke planet Surya. Dengan perlengkapan canggih dan taktik yang matang, kami akhirnya mengurungnya. Tapi bukan tanpa korban."

Lala memotong dengan nada tak sabar. "Kael, apa sebenarnya kemampuan mutan itu?"

Kael memejamkan mata sejenak, mengenang pertempuran yang membuatnya terdesak. "Dia bisa menghilang begitu saja, tak terlihat oleh mata telanjang, radar, bahkan alat pengukur suhu. Yang paling mengerikan adalah kemampuannya mengendalikan pikiran orang lain. Jika seseorang lengah, mereka akan menjadi boneka yang patuh pada kehendaknya."

Kael menggelengkan kepala, ekspresi kebingungan tergurat di wajahnya. "Seharusnya dia dikurung dalam Penjara Level Tujuh. Tidak mungkin dia bisa keluar dan sampai di sini."

Lynx yang sejak tadi menyimak akhirnya maju, wajahnya serius. "Aku rasa aku tahu penyebabnya."

Semua mata menoleh kepadanya. Lynx menatap Lala dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku dan Lala belum lama ini mengaktifkan alat portal dimensi ciptaan Profesor Milo. Alat itu bekerja dengan menghubungi satelit kalian, bukan? Jika alat itu mengirimkan sinyal kuat, maka keberadaan kita terungkap."

Lala tersentak, menyadari kesalahannya. "Benar, Lynx. Aku lupa tentang itu. Meskipun sesaat, sinyalnya cukup kuat untuk memancing perhatian."

Lala melangkah cepat ke arah Arkha yang masih terbaring. Matanya berkaca-kaca. "Arkha, maafkan aku... Gara-gara ulah orang dari dimensiku, kau jadi korban. Tidakkah kau mengenali suaraku? Ini aku, Lala."

Kelopak mata Arkha berkedut, seolah suara Lala memanggil kesadarannya dari kegelapan. Matanya perlahan terbuka, tapi sorotnya hampa, seperti boneka tanpa jiwa. Dalam gerakan kaku, tangannya menyusup ke dalam jubahnya, menarik keluar jarum suntik kecil berkilau logam.

"Lala!" Lynx berteriak, namun terlambat. Jarum suntik itu sudah menancap di lengan Lala dengan sangat cepat. Darah merembes di sekitar tusukan ketika Arkha terkulai lagi, jarum suntik jatuh dari tangan yang tak berdaya.

Lynx segera berlutut di sisi Lala, ekspresi penuh kekhawatiran. "Lala! Kau baik-baik saja?"

Lala mengusap lengannya yang terasa sedikit hangat. “Aku... aku tidak merasakan apa-apa. Sepertinya aku baik-baik saja."

Namun, pandangannya jatuh pada jarum suntik yang tergeletak di lantai. Mata indahnya membulat dalam keterkejutan. "Itu... itu jarum suntik?"

Mata Lynx menyipit tajam saat mengangkat benda berkilau itu. Dia mengamatinya dengan teliti. Struktur logam halus, bentuknya sempurna, jelas bukan sesuatu yang bisa dibuat dengan teknologi dunia ini. Ini lebih mirip alat dari dunia modern.   “Benda ini seharusnya tidak ada di dunia ini."

Jelita memandang dengan kebingungan. "Apa maksudmu? Apakah itu semacam artefak?"

Lynx menggeleng pelan. "Bukan. Ini bukan buatan tangan ahli pandai besi, bukan juga alat kultivasi. Ini lebih mirip alat dari dunia modern, dunia tempatku berasal, bisa jadi juga berasal dari tempat Lala dan Kael."

Leena mengerutkan dahi, matanya memancarkan kewaspadaan. "Jika begitu, darimana Arkha mendapatkan benda ini? Dan apa yang dia suntikkan ke tubuh Lala?"

Kael mengepalkan tinjunya, suara geramnya terdengar jelas. Dia sangat menyesal karena terlambat menyadarinya. "Kanaya. Dia pasti dalangnya. Wanita itu punya kemampuan mengendalikan pikiran. Aku yakin Arkha terkena pengaruh hipnotisnya sehingga dia bereaksi saat mendengar suara Lala."

Sementara mereka berdiskusi dengan penuh ketegangan, di sudut ruangan yang tersembunyi, seorang wanita berwajah dingin berdiri dalam kegelapan. Dengan kekuatannya, sosoknya menjadi samar, tidak terlihat.

Ditambah menggunakan teknologi tinggi, wanita tersebut dapat menyembunyikan napasnya sehingga Lynx pun tidak menyadari keberadaan wanita tersebut.  Wanita itu adalah Kanaya, pembunuh bayaran berdarah dingin yang terkenal dengan kekejamannya.

Saat melihat kedatangan Lala di kota Zhurong, Kanaya yang selalu mengawasi mangsanya langsung mendekati. Namun Kanaya, dengan kemampuannya mengendalikan pikiran orang,  sudah mengetahui keanehan tentang kekuatan supranatural penduduk di dimensi ini, sehingga dia memutuskan untuk berhati-hati.

Sebelumnya, tidak ada seorangpun yang menyadari, saat Arkha sedang terluka dan dibawa ke tempat persembunyian, wanita tersebut mengikuti dengan kemampuan menghilangnya. Sebagai pembunuh bayaran, dia memiliki kesabaran dan perhitungan yang sangat hebat.

Ketika Arkha ditinggal sendirian didalam kamar, dia mendatangi dan menambahkan sugesti ke Arkha serta memberikan jarum suntik yang berisikan partikel nano yang dapat mengalir dalam darah dan susah di periksa oleh perangkat canggih biasa. Kanaya ingin agar Arkha menyuntikkan nano tersebut ketubuh Lala saat Arkha mendengar suara Lala di dekatnya.

Dengan partikel nano ini, Kanaya akan selalu mengetahui keberadaan Lala dan juga dapat digunakan untuk menyerang Lala jika diinginkan.

Lynx berlutut di hadapan Lala, matanya berkilat serius. "Lala, biar aku memeriksa tubuhmu. Jangan bergerak."

Lynx segera memeriksa keadaan Lala. Menggunakan kekuatan saktinya, Lynx memeriksa setiap bagian tubuh Lala. Wajah Lynx berubah, saat merasakan sesuatu yang tidak biasa mengalir dalam darah Lala.

Lynx menggunakan penglihatan tembus pandangnya dan melihat ke arah Lala. Segera, didepan Lynx, Lala terlihat seolah tanpa busana. Lynx memeriksa seluruh tubuh Lala dan tanpa sadar menegukkan ludah ketika melihat bagian intim Lala yang sangat menggoda.

Leena yang menyadarinya, langsung mencubit Lynx sehingga Lynx tersadar.

"Awas kamu nanti ya. Harus kuberi hukuman." Bisik Leena dengan nada mengancam.

Jelita, yang mendengar percakapan mereka, melirik penasaran. "Ada apa, Leena?"

Leena tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Aku hanya melihat seekor lalat besar hinggap di pinggang Lynx, jadi kuusir saja."

Lynx berdeham, berusaha mengembalikan ketenangan. Wajahnya masih merah, namun kali ini ada keseriusan yang lebih dalam. "Lala, tubuhmu telah dimasuki banyak partikel aneh berukuran sangat kecil. Mereka menyebar ke seluruh tubuhmu, terutama di..." Lynx menggigit bibir, menahan diri agar tak mengulang kesalahan yang sama.

Lynx merubah kalimatnya agar tidak menimbulkan masalah lagi. "Aku akan mencoba mengeluarkannya dengan akupunktur. Bersiaplah." Ia menggerakkan jarinya dengan cekatan, mengeluarkan jarum akupunktur tipis berkilauan dari cincin penyimpanan.

Di sudut tersembunyi, Kanaya mengamati dengan mata tajam. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis penuh kepuasan. "Menarik sekali. Pemuda itu mampu mendeteksi partikel nano di dalam darah hanya dengan mengandalkan kemampuannya. Namun, jika dia tetap nekat mencoba, itu akan menjadi kesalahan fatal," gumamnya dalam hati. Rencana Kanaya sudah matang; jika Lynx memaksa, ia akan bertindak cepat dan menculik Lala sebelum situasi berbalik.

Dari Arkha, Kanaya sudah mendapat informasi mengenai kematian profesor Milo dan Mochi. Sehingga kini satu-satunya target adalah Lala dan dia tidak bisa membiarkan nyawa targetnya melayang begitu saja atau semua usahanya menjadi sia-sia.

Di dalam ruangan, Lala dan Kael saling berpandangan. Wajah mereka menegang. Kecemasan membayang dalam mata Lala. "Apakah kamu yakin, Lynx?" tanyanya dengan suara bergetar.

Lynx mengangguk penuh keyakinan. "Tenanglah, aku tidak akan membiarkan benda itu merusak tubuhmu."

Tiba-tiba, Kael mengangkat tangannya dengan ekspresi tegang. "Jangan lakukan itu, Lynx. Kau akan membunuh Lala!" serunya cepat.

Karim mendengus tidak terima. "Apa maksudmu, Kael? Apa kau meragukan kemampuan kepala suku? Menurutmu, Kepala Suku akan mencelakai Lala?" Nada suaranya tajam, penuh kemarahan.

Lala menelan ludah, berusaha tenang meskipun tubuhnya bergetar. "Kael benar, Lynx. Partikel itu bukan benda biasa. Ini alat canggih yang bereaksi terhadap paksaan. Jika kau mencoba mengeluarkannya secara paksa, alat itu bisa meledak atau merusak tubuhku dari dalam."

Wajah Jelita, Karim, Narendra, dan Leena berubah pucat. “Alat sekecil itu bisa begitu berbahaya?" gumam Jelita tidak percaya.

Lala mengangguk dengan berat hati. "Butuh alat khusus untuk menetralkan dan mengeluarkannya tanpa memicu reaksi."

Lynx mengepalkan tangan, keteguhan terpancar dari matanya. "Jangan khawatir, Lala. Aku tidak akan menyerah. Aku akan menemukan cara untuk mengeluarkan benda itu. Aku berjanji akan menyelamatkanmu."

